Lynx, Narendra, dan Kanha melanjutkan perjalanan menyusuri hutan yang semakin lebat. Di sepanjang jalan, suara hewan liar dan desiran angin menyelimuti perjalanan mereka. Kanha, meskipun baru berusia tujuh tahun, tetap berjalan dengan semangat.

Narendra memperhatikannya dengan kagum. "Kanha, kau benar-benar tidak pernah lelah, ya?"

Kanha menoleh sambil tersenyum lebar. "Aku tidak akan menjadi beban, Kak Narendra! Kak Lynx bilang aku harus berusaha agar bisa menjadi lebih kuat lagi"

Lynx, yang berjalan di depan sambil memotong ranting dengan parang, menoleh. "Bagus, Kanha. Tapi bertahan itu juga berarti tahu kapan harus istirahat."

"Aku bisa istirahat nanti, Kak! Aku mau jadi seperti Kak Lynx," sahut Kanha penuh semangat.

Narendra terkekeh. "Tapi kau belum bisa lari sekencang Kak Lynx."

Kanha mengerucutkan bibirnya. "Tunggu saja, aku akan lebih cepat darimu, Kak Narendra."

Lynx tersenyum kecil sambil melanjutkan perjalanan. Ia melihat potensi besar dalam Narendra dan Kanha, terutama semangat mereka yang tidak mudah padam.

Setiap kali mereka berhenti sejenak, Lynx memanfaatkan waktu itu untuk melatih mereka bertarung. Selain itu Lynx juga tetap mengasah kemampuannya meski masih belum berani menghimpun kekuatan.

Hutan lebat dengan pepohonan yang menjulang tinggi diselimuti keheningan yang mendadak mencekam. Seekor harimau besar muncul dari balik semak-semak, bulunya berwarna oranye menyala dengan garis-garis hitam yang membaur dengan bayang-bayang pohon. Hewan itu menatap Lynx, Narendra, dan Kanha dengan mata yang tajam, rahangnya sedikit terbuka, memperlihatkan gigi taring yang mengancam.

Narendra segera mengangkat tombaknya, mengambil sikap bertahan. Di belakangnya, Kanha mempersiapkan busur kecilnya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

"Lynx, ini tidak baik," Narendra bergumam tanpa mengalihkan pandangannya dari harimau itu.

Namun, Lynx hanya tersenyum kecil, melangkah ke sisi mereka dengan tenang. "Tenang saja. Harimau ini tidak menyerang tanpa alasan. Ia hanya sedang melindungi wilayahnya."

Narendra melirik Lynx dengan heran. "Lalu apa yang harus kita lakukan? Berbicara padanya?"

"Tidak," jawab Lynx dengan nada ringan. "Ini kesempatan bagus untuk berlatih. Narendra, cobalah melawannya. Kanha, tetap di belakang, siapkan panah, tapi jangan gunakan kecuali Narendra benar-benar membutuhkan bantuan. Aku akan mengawasi."

Narendra menelan ludah, lalu maju satu langkah, tombaknya terangkat. "Baiklah, tapi jika aku dimakan, kau yang bertanggung jawab, Lynx."

Lynx menyeringai kecil. "Kalau kau dimakan, aku akan pastikan harimau itu minta maaf."

Harimau itu menggeram rendah, langkahnya perlahan mendekati Narendra. Udara terasa berat, dan setiap gerakan hewan itu tampak sangat terkontrol, penuh ancaman. Narendra mengambil posisi bertahan, menunggu dengan sabar.

"Kanha," katanya tanpa menoleh, "pastikan kau tidak gegabah. Fokus pada gerakanku."

"Aku tahu!" Kanha menjawab dengan suara tegas, busur kecilnya terangkat, anak panahnya diarahkan ke tanah, siap melesat kapan saja.

Harimau itu melompat dengan tiba-tiba, mengayunkan cakar besar ke arah Narendra. Tapi Narendra, yang sudah terbiasa dengan latihan dari Lynx, dengan cepat menghindar ke samping. Tombaknya melesat, mencoba menusuk sisi hewan itu, tapi harimau itu memutar tubuhnya dengan lincah, menghindari serangan.

"Kau harus lebih cepat, Narendra," Lynx berseru dari belakang, suaranya tenang tapi tajam. "Gunakan posisi tubuhmu untuk memancing serangan yang bisa kau kendalikan."

Narendra mendengus, berusaha menenangkan diri meskipun keringat dingin mulai membasahi dahinya. Harimau itu kembali melompat dan melancarkan serangan, kali ini mencakar dari bawah ke atas.

"Mati aku!" Batin Narendra pasrah, karena tidak sempat menghindar dari serangan tersebut.

Melihat situasi Narendra yang tidak mungkin bisa menghindar, Lynx yang memantau dari kejauhan, bergerak dengan cepat menarik badan Narendra.

"Luar biasa Kak Lynx." Puji Kanha.

"Lanjutkan! Tetap fokus!" Lynx memberi aba-aba

Narendra kembali maju dan bersiap menghadapi serangan harimau. Narendra memancing gerakan harimau sesuai saran Lynx. Saat harimau menyerang, dia mengangkat tombaknya dengan cepat, menahan cakar itu dengan gagangnya, meskipun dorongan kuat dari hewan itu membuat kakinya terpeleset ke belakang.

"Sekarang!" Lynx berseru.

Narendra memanfaatkan dorongan itu untuk memutar tubuhnya, membuat tombaknya berayun ke sisi tubuh harimau. Bagian tombak yang tumpul mengenai pinggang hewan itu. Hal itu cukup membuatnya terkejut dan mundur beberapa langkah.

Kanha, yang berdiri di kejauhan, mengangkat busurnya. "Kak Narendra, aku siap membantu!"

"Belum!" teriak Narendra. "Aku bisa menangani ini."

Namun, harimau itu tampak semakin marah, cakarnya menghantam tanah, dan ia bersiap untuk melompat sekali lagi. Kali ini, Lynx memperhatikan dengan lebih cermat, tubuhnya bergerak sedikit maju, siap bertindak jika keadaan menjadi terlalu berbahaya.

Ketika harimau itu melompat dengan kecepatan luar biasa, Narendra mencoba menghindar, tetapi tanah licin membuatnya kehilangan keseimbangan. Hewan itu hampir mengenai pundaknya, tapi tiba-tiba sebuah anak panah kecil melesat dari sisi mereka, mengenai tanah tepat di depan harimau itu.

Hewan besar itu berhenti sejenak, terganggu oleh suara panah yang menghantam tanah dengan keras.

"Kau bilang aku bisa membantu!" seru Kanha dengan senyum lebar, meskipun wajahnya memerah karena gugup.

"Kanha!" Narendra berseru dengan marah, tapi tidak bisa menyembunyikan rasa lega karena adiknya berhasil menarik perhatian hewan itu.

Narendra segera mengambil posisi lagi, memanfaatkan gangguan itu untuk melancarkan serangan terakhir. Dengan lompatan yang terlatih, ia mengayunkan tombaknya dengan sisi tumpul, mengenai kaki depan harimau dengan keras. Hewan itu terpental ke samping, mendarat dengan suara keras di tanah.

Ketika harimau itu bangkit, terlihat jelas bahwa hewan itu mulai kehilangan kepercayaan diri. Tapi alih-alih melarikan diri, ia justru menatap Narendra dengan penuh amarah, siap menyerang lagi.

Lynx, yang sejak tadi menonton, melangkah maju. "Sudah cukup. Kalian telah membuktikan kemampuan kalian. Biarkan aku mengurus ini."

Narendra dan Kanha segera mundur, memberikan ruang kepada Lynx.

Dengan gerakan sederhana, Lynx berdiri tegak di depan harimau itu. Hewan itu menggeram, lalu melompat dan menyerang Lynx. Namun dengan mudahnya Lynx menghindar ke samping lalu menangkap badan harimau dan melemparnya ke atas. Sebelum jatuh menabrak tanah, Lynx menangkapnya dan meletakkannya di tanah dengan lembut.

Binatang itu yang kaget, memandang Lynx dengan sorot mata kaget dan takut.

"Pergilah," kata Lynx dengan suara rendah namun penuh kekuatan.

Harimau itu menggeram sekali lagi, tapi akhirnya berbalik, melangkah perlahan masuk ke dalam hutan. Narendra dan Kanha hanya bisa terdiam, terpesona oleh cara Lynx menangani situasi itu.

"Kenapa kau tidak membunuhnya?" tanya Narendra akhirnya, mengatur napasnya.

Lynx menoleh, ekspresinya serius. "Kita tidak membunuh hanya untuk membuktikan bahwa kita kuat. Setiap makhluk punya peran di dunia ini, sama seperti kita. Jika kita menghancurkan semuanya, kita hanya akan menjadi seperti Monrest."

Kanha melangkah maju, wajahnya penuh rasa kagum. "Kak Lynx, kau sangat hebat, bahkan bisa melemparkanya seperti mainan ke atas. Itu luar biasa!"

Lynx tersenyum tipis, mengacak rambut Kanha. "Kamu juga kalau sudah kuat nanti harus bisa melindungi yang lemah."

Narendra mengangguk pelan, meskipun masih merasa terintimidasi oleh kekuatan Lynx. "Aku rasa aku masih harus banyak belajar."

"Itulah gunanya perjalanan ini," kata Lynx sambil berjalan lebih jauh ke dalam hutan. "Kita semua belajar, dari setiap langkah yang kita ambil."

Kanha berlari mengikuti Lynx, melambaikan busurnya dengan bangga. "Tapi aku cukup keren tadi, kan? Aku menyelamatkan Kak Narendra!"

Narendra mendengus, mencoba menahan tawa. "Tunggu sampai aku menyelamatkanmu di lain waktu."

Suasana yang semula tegang berubah menjadi penuh tawa saat mereka melanjutkan perjalanan, membawa pelajaran berharga dari pertemuan dengan harimau besar itu.

Beberapa hari kemudian, mereka tiba di bekas desa Raksa menjelang senja. Tempat itu sunyi, hanya disertai suara angin yang berdesir di antara pepohonan dan suara burung malam yang mulai berbunyi. Bekas bangunan kayu tampak hancur, dindingnya runtuh, dan atapnya sudah lama hilang. Lapangan yang dulu digunakan untuk latihan bertarung kini tertutup rumput liar dan ilalang.

Lynx berjalan perlahan di depan, memeriksa setiap sudut dengan mata tajam dan waspada.

Narendra berhenti di tengah desa, menatap sisa-sisa tempat itu dengan wajah suram. "Ini dulu tempat para pejuang terhebat," katanya dengan suara pelan. "Tapi sekarang, hanya kenangan yang tersisa."

Lynx menoleh ke arah Narendra. "Apa yang sebenarnya terjadi di sini?"

Narendra menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kata-katanya. "Suku Raksa adalah salah satu yang terkuat di pulau ini, hanya kalah oleh Monrest. Pria dan wanita di sini dilatih bertarung sejak kecil. Mereka tidak pernah mundur dalam pertempuran. Tapi... bahkan mereka tidak bisa melawan Monrest ketika ritual besar dimulai."

"Ritual besar?" tanya Lynx, alisnya mengerut.

Narendra mengangguk. "Suku Monrest ingin membangkitkan leluhurnya. Mereka percaya bahwa leluhur mereka dapat dibangkitkan dengan darah pengorbanan. Setiap bulan mereka menangkap orang-orang dari berbagai suku untuk dikorbankan."

"Nenek Drona pernah menceritakan tentang sejarah pulau ini, tapi mengenai ritual dan kekejaman suku Monrest, aku belum pernah mendengarnya. Lalu bagaimana dengan ritual besar setiap lima puluh tahun? apa bedanya?" Tanya Lynx.

"Aku tidak tahu pasti mengenai ritual besar itu," jawab Narendra. "Tapi leluhur kami pernah bercerita bahwa pada ritual lima puluh tahun lalu, Monrest mencoba memanggil orang-orang berdarah istimewa dari dimensi lain untuk dijadikan korban. "

Setelah menghela napas, Narendra melanjutkan, "namun, meskipun berhasil memanggil mereka, darah itu tetap tidak cukup. Mereka hanya berhasil mendapatkan petunjuk dari leluhur mereka, dan sejak saat itu, mereka bisa memanfaatkan batu meteor untuk menundukkan makhluk mutasi dan menjadi suku terkuat di pulau ini."

Lynx mendengarkan dengan seksama, pikirannya mulai terhubung. "Orang-orang dimensi lain?" Batinnya. "Apakah itu alasan kami berempat muncul di pulau ini." Lynx mulai menemukan penyebab kedatangan mereka di pulau ini secara aneh.

Narendra melanjutkan ceritanya, suaranya lebih berat. "Beberapa bulan lalu, Monrest menyerang desa ini. Mereka menangkap banyak pria dan wanita Raksa, termasuk Putri Kepala Suku. Mereka membantai siapa saja yang mencoba melawan. Tawanan-tawanan itu dibawa ke tempat Monrest untuk ritual besar mereka."

Kanha, yang sejak tadi diam di belakang mereka, menggigit bibir. "Itu... mengerikan," gumamnya.

Narendra melanjutkan, suaranya semakin berat. "Malam itu, orang-orang Raksa yang tersisa diam-diam menyusup ke kamp Monrest. Mereka tahu itu berbahaya, tapi mereka tidak peduli. Mereka hanya ingin menyelamatkan keluarga mereka. Namun, saat mereka tiba, sebagian besar tawanan sudah mulai dikorbankan satu per satu. Para penduduk Raksa marah dan kehilangan kendali. Mereka menyerang Monrest, meskipun jumlahnya tidak seimbang."


